Ants - Kompetisi dalam bidang kecerdasan buatan (AI) secara global kini tidak hanya bergantung pada kemampuan untuk membuat model AI tercanggih, tapi juga kepada kemampuan seseorang dalam menyusun infrastruktur digital yang lebih efektif serta ramah lingkungan. Tiongkok saat ini melakukan inovasi baru dengan membuka pusat data bawah laut pertama di dunia yang sepenuhnya menggunakan energi dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di wilayah pesisir Shanghai.
Infrastruktur ini adalah bagian dari upaya Tiongkok dalam merespons peningkatan permintaan akan energi yang disebabkan oleh kemajuan teknologi AI. Proyek Shanghai Lingang Undersea Data Centre Demonstration Project dilakukan melalui kerja sama antara perusahaan HiCloud Technology dan China Communications Construction Company (CCCC), sebuah perusahaan milik pemerintah Tiongkok, dengan daya sebesar 24 megawatt. Infrastruktur itu termasuk dalam strategi Tiongkok untuk menangani kenaikan kebutuhan energi akibat berkembangnya bidang AI. Proyek demonstrasi pusat data bawah laut Shanghai Lingang dijalankan bersama oleh HiCloud Technology dan China Communications Construction Company (CCCC), perusahaan swasta negara Tiongkok, memiliki kapasitas sebesar 24 megawatt. Pengadaan infrastruktur ini merupakan langkah penting bagi Tiongkok guna mengantisipasi meningkatnya penggunaan energi karena pertumbuhan ilmu pengetahuan komputer berbasis AI. Pusat data bawah laut Shanghai Lingang Undersea DataCentre Demonstration Project bekerja sama antara HiCloud Technology dan CCCC, salah satu BUMN Tiongkok, mampu menyediakan daya hingga 24 megawatt.
Menurut laporan The Guardian, hari Rabu (10/6/2026), pusat data ini telah beroperasi sejak bulan Mei dan terletak lebih dari 10 kilometer dari tepian Shanghai, kira-kira 10 meter di bawah permukaan laut. Bangunan tersebut mendapatkan suplai tenaga listrik dari turbin angin yang ada di dekatnya. Pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa sistem ini dapat menekan penggunaan energi hingga lebih dari satu per lima jika dibandingkan dengan pusat data biasanya di daratan, karena menggunakan pendinginan alami dari air laut.
Kemampuan unggul muncul saat industri AI dunia menghadapi kendala signifikan dalam hal kebutuhan energi dan air untuk mendukung infrastrukturnya. Di pusat data tradisional, kisaran 25 hingga 40 persen pemakaian daya dialokasikan untuk sistem pendinginan perangkat keras komputer. Menggunakan air laut sebagai media pendingin alami membuat pusat data di bawah permukaan laut bisa menghemat penggunaan energi sambil juga mengurangi pemanfaatan air tawar.
Masalah penggunaan air semakin mendapat perhatian global. Institut Penelitian Universitas PBB untuk Air, Lingkungan dan Kesehatan (UNU-INWEH) memberi peringatan bahwa jejak konsumsi air dari pusat data bisa mencapai 9,3 miliar liter pada tahun 2030, yang setara dengan kebutuhan air tahunan bagi sekitar 1,3 juta orang di kawasan Afrika Bagian Selatan. Dengan situasi ini, pusat data yang ditempatkan di bawah permukaan laut disebut sebagai salah satu solusi potensial dalam mengurangi beban terhadap sumber daya air.
Tindakan Shanghai juga memperluas pengembangan layanan HiCloud, yang sebelumnya pada tahun 2023 sudah membuka pusat data bawah laut komersial pertama di Kepulauan Hainan. Akan tetapi, proyek terkini ini adalah yang pertama kali dalam sejarah yang secara langsung terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. Wilayah Lingang sendiri merupakan kawasan pelabuhan bebas serta pusat industri teknologi canggih, yang juga menjadi tempat berdirinya pabrik produksi besar milik Tesla.
Namun, China bukanlah negara pertama yang mencoba konsep ini. Microsoft sebelumnya telah memperkenalkan proyek percobaan pusat data bawah air di Kepulauan Orkney, Scotlandia, pada tahun 2018. Dua tahun setelahnya, perusahaan tersebut melaporkan hasil yang optimis, meskipun pengembangan tidak dilanjutkan hingga tingkat bisnis.
Ahli dari Universitas Teknologi Hong Kong, Dr. Hanjiang Dong, berpendapat bahwa kunci keberhasilan Tiongkok adalah mampu memadukan permintaan pasar, kemampuan sektor industri, perkembangan teknologi maritim, serta pendukung kebijakan pemerintah.
"Microsoft telah terlebih dahulu menguji gagasannya, sementara Tiongkok maju lebih jauh dalam penerapan komersial karena berhasil mengumpulkan permintaan pasar, kapasitas industri, teknologi laut, serta pendukung kebijakan dengan lebih cepat dalam satu proyek bisnis," katanya.
Pemerintah Tiongkok memperhatikan kecerdasan buatan sebagai salah satu pondasi penting dalam strategi pertumbuhan ekonominya. Pada tahun lalu, pemerintah meluncurkan rencana tindakan terkait AI yang menyoroti percepatan pengembangan pusat data serta berjanji untuk meningkatkan penyediaan energi hijau untuk infrastruktur AI secara signifikan hingga tahun 2030. Proyek Shanghai Lingang melakukan penanaman modal senilai 1,6 miliar yuan atau kira-kira Rp4,25 triliun dengan nilai tukar Rp2.657 per yuan.
Di pihak lain, pakar-pakar memperingatkan bahwa pusat data yang berada di dasar lautan masih membawa risiko bagi lingkungan laut, misalnya gangguan pada endapan serta kenaikan suhu air di dekat bangunan tersebut. Meskipun demikian, Professor Rick Stafford dari Universitas Bournemouth menyatakan bahwa dampaknya bisa dikelola dengan baik.
"Kemungkinan pusat data di bawah laut adalah ide yang bagus. Walaupun penggunaan air laut untuk pendinginan menyebabkan peningkatan suhu setempat, dampaknya tidak akan meluas secara signifikan," ujarnya.
Evaluasi tersebut menggambarkan bahwa persaingan AI dunia saat ini sedang beralih mencari keseimbangan yang lebih baik antara permintaan komputasi, efisiensi energi, serta keberlanjutan ekologis.
0 Komentar