Ants Sebuah kehidupan harian sering diisi dengan ketakutan yang tampak begitu signifikan. Batas waktu, pendapat dari orang lain, atau kesalahan kecil dapat menyebabkan pikiran seseorang menjadi terus-menerus mengelilingi masalah tersebut.
Namun demikian, psikologi mengindikasikan bahwa manusia sering kali berlebihan dalam memprediksi pengaruh jangka panjang terhadap masalah saat ini. Hal ini disebut dengan bias dampak, yakni kecenderungan untuk meremehkan seberapa besar atau lamanya sebuah kejadian dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan kita dibanding realitanya.
Bila memandang kehidupan dari sudut pandang sepuluh tahun mendatang, berbagai masalah yang saat ini menimbulkan rasa stres nyatanya hanyalah bagian kecil dalam proses perjalanan hidup seseorang. Berdasarkan laporan dari Expert Editor hari Minggu (7/6), ada sembilan di antaranya.
1. Pandangan Orang Terhadap Kamu
Banyak orang menghabiskan waktunya dengan merenung tentang pikiran orang-orang di sekitarnya. Rasa takut dianggap kurang cerdas, kurang berhasil, atau kurang menarik sering kali menjadi penyebab rasa cemas.
Berdasarkan teori psikologi sosial, manusia cenderung merasa bahwa orang di sekitarnya lebih banyak memperhatikan mereka dari yang sebenarnya. Kenyataannya, kebanyakan orang justru terlalu fokus pada diri sendiri dan tidak begitu peduli dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
Dalam sepuluh tahun mendatang, hampir pasti kamu tak lagi ingat ucapan-ucapan sarkastik yang dahulu menyebabkan kesulitan untuk tidur. Bahkan orang yang mengatakan hal itu pun mungkin telah lupa terlebih dahulu.
Yang lebih penting:
Menjadi diri sendiri.
Membangun hubungan yang sehat.
Mengembangkan kemampuan dan karakter.
2. Kesalahan Kecil yang Membuat Malu
Apakah pernah kamu mengucapkan hal yang tidak tepat saat sedang presentasi? Mengirim pesan yang salah? Atau melakukan tindakan yang menyebabkan rasa malu hingga beberapa hari?
Psikolog menyebutkan bahwa manusia cenderung mengingat kesalahan yang mereka buat dalam jangka waktu yang lebih panjang daripada kesalahan orang lain. Meskipun pada kenyataannya, kebanyakan orang jarang memperhatikan atau cepat melupakan hal tersebut.
Dalam jangka waktu sepuluh tahun, kejadian malu itu kemungkinan besar akan berubah menjadi kisah menarik yang mengundang senyum darimu.
Ingat:
Kesalahan kecil sering kali tidak memengaruhi masa depan. Yang lebih penting adalah cara kamu bangkit kembali setelah mengalaminya.
3. Tidak Selalu Efisien Tiap Harinya
Masyarakat yang mementingkan produksi sering kali menyebabkan seseorang merasa bersalah saat istirahat. Seperti halnya setiap jam wajib digunakan untuk mencapai sesuatu tertentu.
Meskipun demikian, berdasarkan psikologi kesehatan, manusia perlu memiliki masa pemulihan untuk menjaga kondisi pikiran dan tubuh yang optimal. Istirahat bukanlah pertanda malas, tapi merupakan kebutuhan alami dari tubuh kita.
Dalam sepuluh tahun yang akan datang, kamu tidak akan merasa rugi telah menyisihkan sehari untuk bersantai. Tapi kamu mungkin menyesali jika tetap memaksa tubuh sampai lelah atau mengalami kelelahan mental.
4. Membandingkan Diri Sendiri dengan Seseorang lain
Sosial media memicu perasaan ketinggalan dengan orang lain. Saat teman-teman telah menikah, memiliki rumah, atau berhasil dalam hal keuangan, kita cenderung merasa jalur hidup yang dijalani sendiri berjalan terlalu pelan.
Teori kesamaan sosial yang dikemukakan oleh psikolog Leon Festinger menyatakan bahwa manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya sendiri dengan membandingkan kepada orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, kebiasaan tersebut terkadang berujung pada ketidakpuasan dan rasa khawatir.
Dalam sepuluh tahun mendatang, faktor utama yang menentukan kualitas hidupmu adalah sejauh mana kamu konsisten mengikuti jalanku sendiri, bukan seberapa cepat orang lain bergerak.
Hidup bukan perlombaan.
Tiap individu mempunyai masa dan kisah hidup yang berlainan.
5. Ketidakberhasilan yang Saat Ini Sedang Kamu Hadapi
Ketika mengalami kegagalan, dunia seolah-olah hancur. Kehilangan pekerjaan, usaha yang tidak sukses, atau hubungan yang putus seringkali dirasakan sebagai akhir semua hal.
Namun demikian, studi dalam bidang psikologi mengungkapkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi secara emosional (resiliensi mental). Ternyata sebagian besar individu dapat bangkit kembali lebih cepat dari apa yang mereka perkirakan.
Banyak individu berprestasi melihat kegagalan di masa lampau sebagai momen perubahan yang memperkuat diri mereka.
Dalam waktu sepuluh tahun, kesalahan yang saat ini dirasakan sangat penting kemungkinan hanyalah sebuah bagian kecil dari cerita hidupmu.
6. Tidak Mengetahui Seluruh Kebijakan Mengenai Masa Mendatang
Banyak orang mengalami tekanan karena masih bingung menentukan masa depannya, seperti ingin jadi apa, bekerja di tempat mana, atau bagaimana kehidupannya kelak.
Meskipun kenyataannya kehidupan sering kali tidak berlangsung seperti yang diharapkan. Perkembangan psikologis membuktikan bahwa identitas serta arah hidup seseorang senantiasa mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Bukan berarti kamu kehilangan arah jika tidak memahami segalanya.
Mungkin selama 10 tahun ke depan, kamu akan menjadi seseorang yang jauh berbeda dibandingkan dengan diri kamu sekarang.
Tidak masalah jika sekarang kamu masih belum mengetahui jalan yang tepat.
7. Ambang Batas Keunggulan Yang Terlalu Ketat
Ketidakpuasan muncul karena sikap perfeksionis. Segala sesuatu harus terlihat ideal, sehingga bahkan sedikit kesalahan dianggap sebagai kekalahan yang besar.
Sayangnya, penelitian psikologis menunjukkan bahwa sikap perfeksionis ternyata berkaitan erat dengan meningkatnya rasa stres, kekhawatiran, serta kelelahan mental.
Secara umum, individu yang tetap konsisten sekaligus bersifat fleksibel biasanya lebih sukses daripada mereka yang selalu berusaha mencapai standar sempurna yang tidak masuk akal.
Lebih baik menyelesaikan sesuatu daripada mencapai kesempurnaan.
8. Dana Yang Tidak Sama Banyaknya Dengan Yang Kau Harapkan Sekarang
Kendala ekonomi benar-benar ada dan tak seharusnya diabaikan. Tetapi banyak tekanan timbul bukan dari ketidakcukupan kebutuhan pokok, tetapi akibat hasrat ingin menyaingi tingkat hidup orang-orang lain.
Psikologi positif menyimpulkan bahwa ketika kebutuhan pokok telah terpenuhi, pertambahan kebahagiaan akibat harta atau barang tambahan biasanya mulai berkurang. Kualitas hubungan interpersonal, tujuan dalam hidup, serta kondisi psikologis memainkan peranan yang jauh lebih signifikan bagi kesejahteraan jangka panjang.
Dalam sepuluh tahun lagi, kemungkinan besar kamu akan lebih menilai pentingnya pengalaman hidup, keluarga, serta kondisi kesehatan daripada benda-benda yang pernah kamu inginkan secara mendesak.
9. Mengira Kehidupan Telah Tertinggal
Umur 25, 30, atau mungkin 40 terkadang dipandang sebagai titik tertentu yang menyebabkan seseorang merasa ketinggalan.
Meskipun psikologi perkembangan menyatakan bahwa tidak ada satu pola hidup tertentu yang harus diikuti oleh seluruh manusia, banyak individu menemukan pekerjaan idaman, pasangan hidup, atau arah kehidupannya di usia yang sudah cukup dewasa.
Keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang bergerak, tetapi oleh sejauh mana seseorang terus berkembang.
Dalam sepuluh tahun mendatang, kau mungkin memahami bahwa istilah "terlambat" sebenarnya tidak pernah ada. Hanya saja tiap individu memiliki jalur dan tahapan yang berbeda-beda.
Penutup
Otak manusia diciptakan untuk mengenali bahaya dan permasalahan yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, banyak hal yang tampak begitu penting pada saat ini sebenarnya tidak akan memberikan dampak yang sama jika ditinjau dari jarak waktu yang lebih luas.
Dari sudut pandang psikologis, manusia memiliki kekuatan luar biasa dalam beradaptasi, bangkit kembali, serta menciptakan arti baru di tengah perjalanan hidupnya. Hal yang sekarang menyebabkan ketakutan atau kecemasan tidak selalu menjadi penentu bentuk dirimu sepuluh tahun dari sekarang.
Mungkin pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah:
Kenapa saya merasa sangat kewalahan saat ini?" "Apa penyebabnya aku jadi begitu tertekan sekarang?" "Mengapa rasanya sulit untuk menghadapi situasi ini?" "Bagaimana cara aku bisa tenang di momen ini?" "Apa yang membuatku merasa penuh tekanan saat ini?
Melainkan:
Apakah hal itu tetap begitu berarti jika aku melihatnya lagi sepuluh tahun mendatang?
0 Komentar