Ants - Pada hari Jumat (12/6), Iran mengumumkan penutupan Lautan Hormuz menyusul serangan militer AS terhadap beberapa sasaran di wilayahnya, dengan meningkatnya ketegangan antar dua negara tersebut yang membahayakan rute pengiriman energi internasional.
Angkatan bersenjata Iran mengumumkan akan melakukan serangan terhadap semua kapal yang melewati Selat Hormuz, setelah sebelumnya menyerang dua buah kapal yang mencoba melintasi wilayah ini. Pihak militer Iran juga memastikan bahwa selat tersebut ditutup bagi segala bentuk kapal secara permanen.
Dikutip dari Reuters, Jumat (12/6/2026), ketegangan meningkat tajam setelah Amerika Serikat melakukan serangan tambahan terhadap Iran beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan untuk "menghancurkan mereka secara keras," sambil menyatakan bahwa para diplomat Iran "telah bermain-main dengan kita seperti anak kecil."
Dengan semakin besarnya tekanan militer yang dilakukan, Trump juga menyatakan sudah melakukan komunikasi dengan perwakilan Iran dan menegaskan bahwa Tehran memohon agar pengeboman dihentikan. Namun, dia tetap memberi peringatan bahwa AS akan melanjutkan serangan jika tidak ada kesepahaman yang dicapai.
Dalam pernyataan politik terkait, Axios menyebutkan bahwa serangan Amerika Serikat mengarah pada sistem pertahanan udara, radar, serta satuan komando dan pengendalian pesawat tak berawak di Iran, menunjukkan perluasan cakupan target dalam operasi militer.
Secara langsung merespons, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa mereka melakukan serangan terhadap 18 sasaran militer AS di Kuwait dan Bahrain, sedangkan otoritas Bahrain melaporkan adanya bunyi sirine yang terdengar di beberapa daerah akibat meningkatnya ketegangan.
Tensi selanjutnya memanas di jalur penting Selat Hormuz, saat Komando Khatam al-Anbiya mengumumkan bahwa "semua perahu yang melintasi Selat Hormuz akan jadi sasaran" serta menyebut jalur itu "sepenuhnya ditutup bagi segala bentuk kapal."
Namun, pernyataan itu langsung ditolak oleh Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command), yang mengklaim bahwa kapal dagang tetap berjalan normal dan melewati Selat Hormuz.
Di sisi lain, IRGC mengatakan dalam laporan dari stasiun berita Iran IRIB dan Mehr News Agency bahwa armada laut mereka melepaskan tembakan kepada dua kapal yang diperkirakan melanggar peraturan navigasi, sekaligus memberi peringatan bahwa Lautan Hormuz akan ditutup sampai ada pengumuman selanjutnya apabila pelanggaran tetap terjadi.
Di dalam pernyataan tambahan, IRGC juga menyampaikan bahwa kapal dilarang meninggalkan pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman, serta segala usaha yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai tindakan koordinasi dengan lawan.
Di sisi lain, dalam rangkaian operasi militer tersebut, terdapat laporan mengenai meledaknya beberapa daerah bagian selatan Iran, seperti Bandar Abbas, Qeshm, Minab, serta Sirik, yang sebelumnya pernah jadi sasaran serangan udara Amerika Serikat pada tanggal 9 Juni.
Di pihak lain mengenai peningkatan ketegangan ini, Komando Pasifik Amerika Serikat merujuk pada operasi terbaru sebagai "tindakan pembelaan diri lanjutan" serta memastikan bahwa langkah-langkah tersebut adalah tanggapan terhadap apa yang diklaim sebagai agresi Iran.
Saat bersamaan, Presiden Donald Trump memperkuat pernyataannya bahwa Amerika Serikat akan terus menerapkan tekanan penuh kepada Iran sampai sebuah kesepakatan dicapai, sementara kemungkinan tindakan militer masih tersedia.
Dalam jalur diplomatis, agensi berita siswa Iran, Students' News Agency, melaporkan bahwa perwakilan Qatar sudah tiba di Teheran untuk memulai diskusi demi menenangkan perselisihan yang semakin memburuk.
Akibatnya mulai dirasakan di pasar internasional, saat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,6 persen menjadi USD 92,39 per barel atau kira-kira Rp1.659.324 berdasarkan nilai tukarRp17.960 per dolar AS, karena khawatir adanya gangguan suplai melalui Selat Hormuz.
Peningkatan ini menunjukkan ketakutan bahwa setiap gangguan di Laut Hormuz bisa memengaruhi lebih dari sepertiga suplai minyak global yang melalui rute itu tiap harinya.
Di pasar keuangan, indeks saham AS mengalami penurunan sedangkan harga logam mulia cenderung naik turun karena menigkatnya ketidakstabilan politik global.
Berdasarkan situasi itu, serangkaian pengerasan tindakan militer, penyataan tentang penutupan Lautan Hormuz, serta ketegangan pandangan antara Iran dan Amerika Serikat telah membawa perselisihan ini ke tingkat paling rentan dalam beberapa tahun terakhir, dengan risiko dampak internasional yang luas.
0 Komentar