Ancaman Trump Picu Penurunan Wall Street Nyaris 2 Persen

Indeks saham utama Amerika Serikat atau Wall Street berakhir dalam area negatif saat menjelang hari Rabu (10/6). Penurunan ini terjadi karena adanya tekanan terhadap saham perusahaan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan industri semi konduktor, sementara para investor mulai khawatir akan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Mengutip Reuters Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 953,33 poin atau 1,87 persen menuju angka 49.918,78. Di sisi lain, indeks S&P 500 turun 119,66 poin atau 1,62 persen menjadi 7.266,99, sedangkan Nasdaq Composite melorot 509,32 poin atau 1,98 persen ke tingkat 25.169,50.

Pergerakan pasar menjadi negatif setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat siap melancarkan serangan lagi ke Iran jika tidak ada kesepakatan perdamaian yang dicapai. Pernyataan ini datang menjelang peningkatan ketegangan di Kawasan Teluk Selatan selama dua bulan terakhir.

Kejadian geopilitik meningkatkan tekanan pada saham-saham teknologi yang telah menghadapi tantangan sebelumnya. Indeks semikonduktor (.SOX) mencatat penurunan sebesar 3,6 persen, di mana saham Nvidia dan Broadcom berkontribusi besar dalam pelemahan indeks S&P 500.

Para investor mulai meragukan nilai saham perusahaan teknologi yang dianggap terlalu mahal akibat kenaikan signifikan selama beberapa bulan belakangan ini.

Sebagai akibatnya, sektor teknologi di dalam Indeks S&P 500 saat ini sudah mengalami penurunan sebesar 11 persen dibandingkan tingkat penutupan tertingginya yang tercatat pada 2 Juni, sehingga secara resmi memasuki area koreksi.

Pada waktu yang bersamaan, Indeks Volatilitas Cboe (VIX), sering disebut sebagai pengukur rasa takut di Wall Street, terus mengalami peningkatan trennya.

Tom Hainlin, Pakar Strategi Investasi dari U.S. Bank Wealth Management, menganggap para investor masih melakukaan penjualan saham teknologi untuk memperoleh keuntungan.

Di samping itu, pasar mulai memperkirakan potensi kenaikan suku bunga karena dirilisnya beberapa laporan ekonomi terkini serta ketidakstabilan yang muncul dari perselisihan di wilayah Teluk.

"Mungkin perkelahian ini akan terus berlangsung sampai pertengahan atau akhir musim panas," katanya.

Tekanan juga berasal dari sektor industri. Harga saham perusahaan jasa logistik dan transportasi barang seperti XPO, J.B. Hunt, serta Old Dominion turun pasca-Amazon mengumumkan perluasan layanan pengiriman LTL di Amerika Serikat. Sebagai sektor paling buruk, keuntungan mereka merosot hingga 3,4 persen.

Secara politik monetery, para pemain pasar tetap percaya bahwa Bank Sentral AS tidak akan mengubah tingkat suku bunga dalam rapat bulan Juni. Akan tetapi, saat ini para investornya mulai memprediksi kemungkinan adanya sedikitnya satu peningkatan suku bunga sebesar 25 titik dasar sampai akhir tahun.

Harapan tersebut semakin menguat berdasarkan data ekonomi terkini. Setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat minggu lalu mencatat angka yang lebih baik daripada prediksi, data inflasi yang diumumkan pada hari Rabu menunjukkan kenaikan harga konsumen sebesar 4,2 persen per tahun hingga bulan Mei, yaitu tingkat tertinggi sejak April 2023.

Peningkatan tingkat inflasi ini disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak dan energi yang terjadi karena ketegangan di wilayah Teluk. Walaupun demikian, angka tersebut tetap sejalan dengan perkiraan para ahli ekonom dari jajak pendapat Reuters.

Setelah sesi perdagangan ditutup, harga saham Oracle mengalami penurunan kira-kira satu persen setelah perusahaan mengumumkan hasil laporan keuangannya yang terbaru.

Di sisi lain, saham Super Micro Computer mendapat perhatian setelah turun sebanyak 28 persen. Penurunan ini terjadi usai perusahaan mengungkapkan rencana pengumpulan modal senilai USD 7 miliar guna menutupi biaya pemilihan komponen agar dapat menjawab permintaan yang tinggi atas server berbasis kecerdasan buatan (AI).

Sementara pasar saham teknologi sedang mengalami penjualan besar-besaran, beberapa sektor yang sebelumnya kurang diminati mulai memperoleh perhatian dari para pemodal. Sektor kesehatan, real estate, serta produk kebutuhan pokok mencatat adanya arus modal baru.

Pasaran juga diiringi oleh rencana peluncuran saham SpaceX yang memiliki nilai kapitalisasi hingga USD 1,75 triliun serta tujuan pengumpulan dana senilai USD 75 miliar. Kegiatan perusahaan ini dipandang bisa meningkatkan tekanan pada bursa saham Amerika Serikat lantaran memperburuk ketakutan akan besarnya ekspektasi para investor terhadap industri teknologi.

Secara umum, tekanan penjualan menjadi dominan dalam aktivitas perdagangan. Pada Bursa Saham New York (NYSE), volume saham yang anjlok melebihi saham yang naik dengan perbandingan 1,87 berbanding 1. Sedangkan di Nasdaq, tercatat 3.129 saham merosot, jauh lebih besar dari pada 1.772 saham yang meningkat.

Jumlah volume perdagangan di pasar saham Amerika Serikat sebesar 20,7 miliar lembar saham, sedikit meningkat dari rerata harian sebanyak 20,6 miliar lembar saham selama 20 sesi trading terbaru.

Posting Komentar

0 Komentar