Perang Iran Hari Ke-97: Israel Terus Serang Lebanon, Hizbullah Sebut Gencatan Senjata Lucu

Ringkasan Berita:
  • Israel tetap melancarkan serangan ke Lebanon meskipun perjanjian gencatan senjata terbaru yang ditengahi oleh Amerika Serikat sudah dikeluarkan.
  • Hizbullah menolak perjanjian tersebut dan menganggapnya sebagai "candaan", sedangkan Iran meragukan rancangan damai yang masih dipenuhi ambiguitas.
  • Dalam situasi yang menghadapi kemacetan dalam diplomasi, potensi peningkatan ketegangan konflik di tingkat regional semakin membesar.

ANTS Perang Iran menginjak hari kesembilan puluh tujuh pada Jumat (5/6/2026), sementara kondisi wilayah tetap dalam keadaan tegang.

Kemungkinan berakhirnya konflik kembali terhambat setelah Israel memutuskan untuk mengakhiri operasi militer mereka di Lebanon meskipun sudah ada perjanjian damai yang dikeluarkan dari Washington DC.

Menurut laporan Al Jazeera, Serangan Zionis yang terjadi sejak tanggal 2 Maret mengakibatkan kematian minimal 3.526 jiwa serta luka-luka pada 10.733 orang lainnya di Lebanon.

Kemajuan ini menimbulkan pertanyaan baru tentang sejauh mana keberhasilan langkah diplomatik yang saat ini dilakukan oleh Amerika Serikat (AS).

Hizbullah Tolak Gencatan Senjata

Tensi semakin memuncak setelah Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menolak perjanjian damai yang dicapai oleh utusan Lebanon dan Israel di Amerika Serikat.

Qassem menggambarkan usulan itu sebagai "candaan" lantaran hanya memberikan penangguhan sementara tanpa memastikan berhentinya serangan militer Israel di kawasan Lebanon.

Dia menyatakan bahwa Hizbullah tidak akan menerima perjanjian yang tidak melibatkan pengunduran lengkap pasukan Israel.

Menurut Qassem, area sebelah utara Israel akan terus jadi target serangan selama operasi militer Israel masih berlangsung.

Pernyataan itu menimbulkan ketidakpastian mengenai kemungkinan tercapainya damai yang berkelanjutan di sepanjang perbatasan dua negara.

Reporter Al Jazeera Di Beirut, Ali Hashem menyebut bahwa Hizbullah tetap sebagai pihak penting yang memengaruhi jalannya perang di Lebanon.

Pandangan Hashem terhadap sikap tegas Hizbullah menunjukkan bahwa potensi peningkatan ketegangan dalam beberapa hari ke depan tetap tinggi.

Dia melaporkan bahwa Selatan Libanon dan daerah Bekaa Barat kembali menjadi target serangan udara serta operasi darat milik Israel pada hari Kamis.

Teheran Curiga Draf Perdamaian

Di Tehran, mantan pejabat tinggi Iran Mohsen Rezaei menyampaikan kritik terhadap usulan kesepakatan yang saat ini dalam pembicaraan guna menyelesaikan konflik tersebut.

Rezaei menganggap konten dokumen itu masih memunculkan berbagai kekaburan.

Dia juga mengklaim bahwa Washington mencoba memaksa Iran untuk menerima persyaratan Amerika Serikat tanpa menyampaikan penjelasan terkait permintaan Tehran.

Menurutnya, beberapa hal krusial masih kurang diuraikan dengan jelas hingga menyulitkan digunakan sebagai landasan dalam menyelesaikan persengketaan.

Trump Didesak Jelaskan Strategi

Di Washington, pemerintahan Donald Trump kini dihadapkan pada tantangan baru dalam menentukan jalannya politik terhadap Iran.

Kimberly Halkett dari Al Jazeera menyampaikan bahwa semakin banyak orang meragukan alas an Amerika Serikat terus berupaya mencapai perjanjian diplomatis.

Pertanyaan tersebut timbul setelah Trump terus-menerus menyatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat berhasil meruntuhkan program nuklir Iran.

Pengamat menganggap pernyataan itu tidak selaras dengan upaya Washington yang tetap ingin berdialog dengan Tehran.

Trump sendiri menyebut bahwa Amerika Serikat tidak perlu adanya kesepakatan agar bisa mendapatkan uranium dari Iran, lantaran bahan ini sebenarnya sudah "tersimpan" secara alami.

Namun demikian, dia tidak mengecualikan kemungkinan berjumpa dengan Pemimpin Tinggi Iran, Mojtaba Khamenei, jika proses diplomatik menunjukkan perkembangan.

Keributan Menggoyahkan Pelabuhan Minyak Oman

Perselisihan mulai memengaruhi sektor energi di wilayah tersebut.

Reuters melaporkan bahwa Omani menangguhkan sementara kegiatan pengisian minyak mentah di terminal Mina al-Fahal pasca-terjadinya ledakan dekat instalasi penambat kapal tunggal.

Sumber Reuters mengatakan bahwa terjadinya ledakan berada diantara SBM 1 dan SBM 2.

Sumber kejadian masih belum diungkapkan secara resmi, tetapi dugaan sementara menyebutkan kemungkinan adanya serangan dari pesawat tanpa awak.

Kejadian ini lagi-lagi menimbulkan ketakutan akan keselamatan jalur pasokan energi Teluk Persia dalam kondisi persaingan yang masih berlangsung.

Pembangkangan Terhadap Kewajiban Militer Meletus di Israel

Dalam wilayah negara, pemerintah Israel juga mendapat tekanan yang lebih besar.

Puluhan warga yang termasuk dalam komunitas Ultra-Orthodox menghalangi Jalan Raya 1 sebagai bentuk penolakan terhadap aturan wajib militer untuk para pelajar agama.

Peristiwa itu meletus setelah aparat kepolisian mencegat dua mahasiswa ekstrem Ortodoks dan menyerahkan satu di antaranya kepada otoritas militer.

Personel kepolisian selanjutnya diturunkan guna mengurai kerumunan serta memulihkan jalannya lalu lintas di jalan utama.

(ANTS/Andari Wulan Nugrahani)

Posting Komentar

0 Komentar