Keamanan Pangan: Tanggung Jawab Kita Bersama

Oleh: Ermanto Siahaan

Kepala Kantor Pengawas Obat dan Makanan di Sofifi Kabupaten Maluku Utara

ANTS "Tidak disebut pangan jika tidak aman." Kalimat ini tampak sederhana, namun menyimpan makna yang dalam, yaitu menegaskan bahwa faktor keselamatan pangan harus menjadi fokus bagi seluruh pemangku kepentingan. Makanan bukan hanya sekadar benda yang bisa dikonsumsi atau memberi rasa kenyang, melainkan lebih pada jaminan keamanannya agar tidak merugikan kesehatan masyarakat.

Tiap tanggal 7 Juni, seluruh dunia merayakan Hari Keselamatan Makanan Global (World Food Safety Day). Menurut saya, hari ini bukan hanya kegiatan rutin tiap tahun, tapi juga kesempatan berharga yang menegaskan kepada kita semua bahwa makanan yang aman adalah hak pokok bagi setiap komunitas tanpa melihat kondisi sosialnya.

Yang kita dan anggota keluarga makan setiap harinya ternyata memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan, kualitas hidup, serta masa depan anak-anak bangsa. Oleh karena itu, keselamatan pangan harus selalu diperhatikan.

Pada tahun 2026, Badan Kesehatan Dunia (WHO) bersama dengan Organisasi Perdagangan dan Pertanian Global (FAO) menetapkan topik utama yang akan diangkat dalam kegiatannya. Dari beban ke solusi - makanan aman di mana-mana atau "Dari Beban Menuju Solusi - Ketersediaan Makanan Berkualitas Di Manapun." Topik ini menantang berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan pengawasan, penyuluhan, serta kerja sama guna menghindari ancaman makanan yang tidak layak konsumsi di segala sektor.

Maluku Utara tidak hanya merupakan suatu daerah yang terpahat dalam peta Pulau Jawa Timur. Wilayah ini merupakan rangkaian kepulauan yang sudah bertahun-tahun menjadi pusat persinggungan berbagai peradaban global. Provinsi ini secara resmi didirikan pada 4 Oktober 1999 dengan jumlah 10 kota/kabupaten mengalami perkembangan serta penyesuaian administrasi. Sofifi secara sah ditunjuk sebagai ibu kota provinsi tepatnya pada 4 Agustus 2010.

Asal usulnya terlalu jauh dari tanggal itu, membawa kita kembali pada masa lama ketika perdagangan rempah-rempah memainkan peranan penting dalam mengubah arah sejarah global. Dulu, Maluku menjadi daya tarik utama bagi negara-negara besar. Kapal-kapal Eropa melakukan perjalanan ratusan ribu kilometer melewati lautan lebar hanya demi sampai di pulau-pulau sempit yang menyimpan harta tak ternilai seperti kayu manis dan pala.

Barang ini tidak hanya mempunyai harga mahal namun juga menjadi lambang kemakmuran, kekuasaan serta persaingan pengaruh diantara negara-negara lain. Yang menarik adalah Maluku Utara memiliki kekuatan lokal yang sudah mapan jauh sebelum orang-orang luar datang. Kerajaan-kerajaan seperti Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo merupakan fondasi penting dalam pembentukan peradaban, dan empat kerajaan itu disebut sebagai Moloku Kie Raha, suatu istilah yang tidak hanya menyampaikan otoritas politik tapi juga merefleksikan keterpaduan nilai-nilai, budaya, dan filsafat kehidupan masyarakat setempat.

Sebagai Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan di Sofifi, saya menyaksikan bahwa permasalahan daerah, kerumitan topografi serta perkembangan situasi membuat keselamatan pangan khususnya di area Maluku Utara pada masa sekarang makin rumit. Dalam kondisi geografis yang spesifik dan beragam, Pulau Halmahera adalah pulau terluas di Maluku Utara yang menjadi pusat utama dan dikelilingi deretan kepulauan kecil yang tersebar luas layaknya mutiara hijau di laut.

Keragaman penduduk merupakan kekuatan yang memperkaya dan mengikat karena lautan tidak menjadi batas tetapi sebagai penghubung dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara, walaupun akses antarpulau sangat tergantung pada angkutan laut serta situasi cuaca yang sering kali sulit. Hal ini selaras dengan tema Peringatan Kesehatan Pangan Dunia (World Food Safety Day) pada 7 Juni 2026 yaitu "From burden to solutions - safe food everywhere" atau "Dari Beban Menjadi Solusi - Makanan Segar Di Setiap Tempat."

Peningkatan kegiatan produksi serta perluasan jaringan distribusi bahan pangan di daerah kepulauan Indonesia, khususnya bagian Timur seperti Maluku Utara. Penerapan prosedur kebersihan dan sanitasi masih kurang tetap memenuhi standar yang telah ditetapkan, mengakibatkan pencemaran makanan oleh faktor biologis, kimia, atau fisika, sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari keracunan hingga penyakit parah lainnya; apabila tidak cepat diberikan penanganan, dapat membahayakan jiwa penduduk setempat.

Karena itu, penjagaan kualitas makanan perlu dilaksanakan dengan menyeluruh, kerja sama antar sektor, serta terus-menerus dimulai dari tahap produksi, pemrosesan, pendistribusian, hingga penyajian makanan kepada konsumen (dari pertanian hingga meja makan). Keselamatan pangan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya menjadi wewenang pemerintah saja.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) secara aktif memperkuat sistem pengawasan untuk menigkatkan efisiensi dalam pengawasan produk farmasi maupun makanan. Selain itu, BPOM juga mencetuskan beberapa program strategis yang bertujuan menjaga keamanan pangan, termasuk Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD), Pangan Jajan Anak Sekolah (PJAS), serta Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas (PPBAK). Bersama dengan instansi-instansi pemerintah dan lembaga terkait, BPOM telah meluncurkan kabupaten/kota yang layak sebagai daerah aman dari ancaman pangan. Kerja sama antara institusi dan para pelaku industri pangan semakin meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat sehingga dapat mewujudkan keamanan pangan yang lebih baik.

Sistem distribusi sering kali menjadi penentu keselamatan pangan, sehingga diperlukan pendekatan yang sungguh-sungguh dari pemerintah dalam meratakan pengembangan infrastruktur utama serta meningkatkan keterhubungan antar daerah sebagai bentuk nyata komitmen negara dalam memberikan hak pokok bagi rakyat di seluruh tanah air. Kembali, ini merupakan upaya dan tanggung jawab bersama kita semua. Makanan segar di mana pun berada.

Para pelaku bisnis bertanggung jawab dalam menyediakan makanan yang aman serta berkualitas. Masyarakat memainkan peranan krusial dengan bersikap aktif meningkatkan kesadaran agar menjadi konsumen yang bijak, cermat, dan peka terhadap keamanan pangan yang akan mereka atau anggota keluarganya konsumsi.

Beberapa hal kecil namun berdampak signifikan dalam menjamin keselamatan makanan serta melindungi anggota keluarga bisa dilakukan dengan menerapkan lima prinsip utama keselamatan pangan, yaitu menjaga kebersihan selama proses pengolahan makanan, memisahkan bahan mentah dengan masakan siap saji, memastikan makanan dimasak sampai benar-benar matang, menyimpan makanan di kondisi suhu yang tepat, serta menggunakan air dan bahan dasar makanan yang layak konsumsi.

Untuk memilih produk pangan dalam kemasan, masyarakat perlu mengikuti prinsip "Cek KLIK", yakni mengecek kondisi Kemasan agar tetap utuh tanpa kerusakan seperti karat, robek, bocor, atau mengembang, melakukan pengecekan pada Label untuk memastikan adanya informasi komposisi dan nutrisi, melihat Izin edar apakah memiliki nomor izin BPOM (MD/ML) maupun izin dari Dinas Kesehatan (PIRT), serta memperhatikan tanggal Kadaluarsa apakah masih valid.

Beberapa tips mudah ini sangat berarti untuk memastikan bahwa barang yang Anda konsumsi benar-benar aman serta berkualitas. Klik Hari Ini membantu menjaga keamanan diri dan anggota keluarga sehari-hari. Masyarakat juga bisa mengakses informasi tentang makanan yang aman lewat aplikasi "BPOM Mobile".

Dalam momen Peringatan Keselamatan Pangan Dunia kali ini, saya Ermanto Siahaan sebagai Kepala Balai POM di Sofifi mengajak berbagai pihak untuk memperkuat kemitraan serta kerja sama guna meningkatkan daya tahan dalam pengawasan keselamatan pangan. Untuk seluruh warga Maluku Utara yang dicintai, marilah kita bersama-sama menjaga diri dan keluarga dengan membentuk sikap peduli akan keselamatan pangan di sekitar lingkungan masing-masing. Pangan yang aman tersedia di mana pun kita berada.

Ketersediaan pangan yang aman tidak hanya menjaga kesehatan saat ini, namun juga menjadi bentuk investasi bagi masa depan bangsa yang sehat, unggul, dan berdaya saing.

Tidak bisa disebut makanan jika tidak terjamin keamanannya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar